Suka makan batagor ? tapi ga tau dimana batagor yang enak dan murah di Palembang?

Ga usah jauh-jauh ke Bandung untuk makan batagor enak, di Palembang ada kok. Batagor Bu Endang namanya. Bertempat di depan Rumah Sakit Islam Siti Khadijah, tepatnya persis di depan pintu keluar RSI Siti Khadijah.

Daftar Menu
Tak hanya menjual batagor, warung Bu Endang juga menjual Siomay dan Mie Ayam. Keistimewaan warung Bu Endang adalah rasanya yang enak dan murah.
Warung Siomay dan Batagor Bu Endang buka dari jam 4 sore sampe dengan jam 10 malam tapi jangan sampai kehabisan, sering saya mendapati jam 7 malam sudah tutup karena banyak peminatnya, sampai-sampai kalo ga kebagian tempat duduk di dalam, kalian harus duduk diluar atau yang menggunakan mobil, bisa makan di mobil

Batagor Bu Endang
Walau tempatnya kecil dan di pinggir jalan, tapi tenang kebersihannya terjaga kok.
Posted in Tempat Makan.
Tagged with batagor, Makanan, siomay, Tempat Makan.
By Nike
November 15, 2008

Masjid Baitullah ini terletak di Jalan Sultan M. Mansyur No 44 Bukit Lama Palembang
Bagi yang ga tau lokasi jalan ini, saya kasih tau deh. Kalo tau daerah Lingkaran Bukit, nah masuk ke arah menuju taman Bukit Siguntang, ga terlalu jauh kok. Didepan jalan ada banyak ojek yang bisa mengantar sampai ke lokasi Masjid ini.
Masjid ini selain digunakan untuk ibadah disebelahnya dibangun Gedung Serba Guna yang biasa dipakai penduduk setempat untuk resepsi pernikahan. Ga cuma Gedung Serba Guna aja yang ada, tapi di sekitar masjid ini dibuat juga taman luas dan area juga dibuat replika ka’bah untuk berlatih haji. Masjid ini juga dilengkapi dengan kantin kecil.

Untuk ruang dalam masjid juga luas dan dindingnya malah dibuat seperti aliran air. Jangan takut buat yang ga bawa mukena, di masjid menyediakan mukena yang lumayan bersih. Tempat wudhu yang juga bersih membuat beribadah di mesjid ini lebih nyaman.

Posted in Masjid.
Tagged with Masjid.
By Nike
November 14, 2008

Pernah datang ke acara-acara yang di adakan oleh masyarakat asli Palembang yang kebanyakan masih tinggal di rumah-rumah panggung ? Jangan heran kalau kita tidak akan menemukan meja-meja untuk mengambil nasi dan lauk pauknya di sana. Kalau si empunya hajat mempunyai rumah yang cukup besar untuk para tamu-tamunya, maka makanan akan di hidangkan langsung di dalam rumah tersebut. Tetapi jika si empunya hajat tidak mempunyai tempat yang cukup besar, maka para tamu akan di persilahkan masuk ke rumah-rumah panggung lainnya yang telah sediakan oleh sang empunya hajat. Bisa saja si empunya menyiagakan empat sampai lima rumah panggung milik tetangga atau kerabatnya untuk di jadikan tempat para tamu bersantap. Kalau tamu yang di undang cukup banyak, bisa saja rumah panggung yang di siagakan akan lebih banyak lagi. Lantas makanan akan di antar ke rumah-rumah panggung tersebut dengan cara estafet. Kemudian makanan akan disusun berbetuk lingkaran atau persegi panjang di atas lantai yang telah di alasi dengan taplak atau karpet. Kalau berbentuk lingkaran biasanya ada lebih kurang 8 orang yang akan mengelilingi makanan tersebut, sementara kalau berbentuk persegi panjang akan lebih banyak lagi orang yang akan mengeliling makanan tersebut.
Adapun susunan hidangannya seperti yang bisa di lihat pada gambar. Di tengah-tengah sekali ada tempat nasi, yang biasanya di isi oleh nasi putih atau nasi minyak. Sementara lauk-lauknya akan mengelilingi tempat nasi tersebut. Lauk yang biasanya terhidang antara lain ayam kecap, malbi, kari kambing di tambah lauk-lauk pelengkap, ada pula acar ,manisan kedondong atau manisan gandaria dan juga buah-buahan seperti pisang atau nanas. Memang tidak ada patokan bahwa lauk-lauk tersebut harus ada dalam setiap acara, tetapi pada dasarnya tidak terlalu berbeda antara hajatan yang satu dengan yang lainnya. Dalam satu rumah, biasanya akan ada beberapa lingkaran hidangan yang tersaji. Dan setelah para tamu menyantap hidangan tersebut, panitia akan menggantinya dengan hidangan yang baru untuk tamu-tamu berikutnya yang akan makan…
Inilah yang di sebut ngidang atau beberapa orang juga mengenalnya sebagai ngobeng. Salah satu budaya yang saat ini memang masih ada di Palembang, tapi semakin tersudut oleh zaman. Padahal kalau kita melihat, banyak sekali hal positif yang bisa kita ambil dari tradisi ngidang atau ngobeng ini. Yang pertama hubungan antar warga pastilah harus baik. Karena beberapa rumah kerabat dan rumah tetangga si empunya hajat yang akan di pergunakan untuk tempat bersantap para tamu. Yang kedua adanya rasa kebersamaan antar warga untuk ikut mensukseskan hajatan. Kita lihat bagaimana para kerabat dan tetangga si empunya hajat yang bersedia untuk ber estafet mengantarkan hidangan ke para tamu yang akan bersantap, lalu mengambil piring kotor dan sisa-sisa hidangan, dan menyajikan kembali hidangan untuk tamu-tamu lain yang belum bersantap sampai kemudian membersihkan semuanya setelah hajatan kelar. Sungguh membutuhkan sebuah kerjasama yang sangat baik. Belum lagi para tamu yang bisa berinteraksi satu dengan yang lain meskipun tidak saling kenal dalam satu lingkaran hidangan.
Akankah ngidang hanya akan menjadi sebuah tradisi yang pernah ada ???
Posted in Budaya.
Tagged with Budaya.
By goiq
November 14, 2008